Belajar merupakan kewajiban pokok bagi seorang siswa/pelajar. Seorang pelajar harus belajar, itulah yang harus dilakukan kalau ia ingin sukses dalam studinya. Adalah mustahil seorang siswa akan berhasil dengan baik, tanpa belajar. Bahkan seorang geniuspun tak luput dari keharusan belajar. Belajar memiliki banyak bentuk. Dengan membaca, memahami dan mengerti serta banyak latihan, kita akan banyak memperoleh ilmu dan pengetahuan serta ketrampilan. Bukankah ini yang kita harapkan?
Tapi kita sering menjumpai sebagian siswa hanya mau belajar pada saat aka nada ulangan atau evaluasi belajar saja. Mereka tak punya keinginan untuk lebih kontinyu dalam belajar, tak ada gairah dan malas-malasan atau enggan bila disuruh gurunya menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugas-tugas lainnya yang diberikan. Jadi wajarlah kalau mereka itu memperoleh hasil yang jauh dari yang diharpkan. Tapi ironisnya mereka merasa cukup puas dengan hasil yang diperolehnya itu. Jadi untuk apa sebenarnya belajar itu ?
Belajar pada hakekatnya adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, lewat pengalaman dan latihan.
Dari situ dapat kita ketahui bahwa dengan belajar kita memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, sehingga dapat merubah prilaku kita menuju terwujudnya harapan yang kita tuju atau yang dicita-citakan.
Banyak factor yang dapat menunjang kegiatan belajar dengan baik guna mewujudkan cita-cita itu, Satu sisi yang dapat menunjang belajar siswa sehingga akan lebih bersungguh-sungguh dan kontinyu dalam belajar adalah motivasi siswa dalam belajar yaitu dorongan yang kuat untuk siswa agar mampu belajar dengan baik.
Daya penggerak yang besar biasanya akan membuka jalan bagi siswa dalam menghadapi tugas-tugas belajarnya, sehingga ia mampu mengatasi segala kesulitan-kesulitan, rintangan-rintangan dan situasi yang kurang menyenangkan dalam belajar. Motivasi ini tidak hanya dating dari luar diri siswa. Yang lebih kuat justru motivasi dari dalam diri siswa itu sendiri. Keinginan dan kemauan yang kuat, yang mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, akan mampu mewujudkan tujuan yang telah dicita-citakan.
David C. Maclelland membagi motivasi dalam diri manusia menjadi tiga macam yaitu Motivasi Berprestasi, Motivasi Berafiliasi dan Motivasi berkuasa.
Motivasi Berprestasi
Bila seorang belajar, maka ia akan berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi samgat menyukai pekerjaan/tugas-tugas yang menantang keahlian dan kemampuannya memecahkan persoalan.
Begitu pula dengan masalah belajarnya mampu diatasinya dengan baik. Ia tidak begitu percaya dengan nasib baik, misalnya akan memperoleh bantuan nilai dari gurunya atau dapat contekan dari temannya, sebaliknya ia berusaha dan percaya pada kemampuan sendiri. Dan bila ia membutuhkan bantuan ia akan bertanya pada orang yang dianggapnya mampu atau pada orang/kelompok atas dasar kemampuannya, bukan atas dasar setia kawan, kawan dekat dan sebagainya. Jika motivasi ini mampu dikembangkan pada setiap siswa dalam studinya, tidak mustahil siswa tersebut akan cepat mewujudkan kesuksesannya.
Motivasi Berafiliasi
Motivasi ini didasari oleh keinginan untuk menciptakan, memlihara dan mengembangkan hubungan kebersamaan. Pada waktu belajar, siswa berkeinginan selalu berkelompok. Ia akan mampu belajar dengan baik bila belajar bersama. Tujuan yang ingin dicapai pada motivasi ini adalah mengingkatkan kemampuan bersama atau kerjasama dalam belajar untuk mencapai prestasi tertentu. Jadi motivasi disini yang lebih penting kemampuan atau prestasi kelompok bukan pada kemampuan individu.
Motivasi Berkuasa
Siswa akan merasa terpacu dalam belajarnya jika mendapat dorongan untuk mengawasi dan mempengaruhi tindakan orang/siswa yang lain, misalnya dengan menjadi pemimpin kelompok belajar atau menjadi ketua kelas. Dengan menjadi pemimpin ia mampu meningkatkan kemampuannya guna mengatasi rekan-rekannya. Dorongan yang kuat dalam dirinya untuk belajar dengan baik akan tercipta, sebab bila tidak mau belajar dengan baik, ia akan merasa malu dengan rekan-rekannya atau anggota kelompoknya, maka ia termotivasi belajar untuk lebih baik dari pada rekan-rekannya.
Dari ketiga motivasi tersebut, kiranya pembaca dapat memilih alternative mana yang mampu diterapkan pada diri anda agar timbul dorongan dalam diri untuk belajar dengan baik, guna terwujudnya harapan, keinginan dan cita-cita dapat berhasil, sehingga motivasi ini menjadi satu sisi dalam menunjang keberhasilan belajar. Selamat berprestasi !
Tapi kita sering menjumpai sebagian siswa hanya mau belajar pada saat aka nada ulangan atau evaluasi belajar saja. Mereka tak punya keinginan untuk lebih kontinyu dalam belajar, tak ada gairah dan malas-malasan atau enggan bila disuruh gurunya menyelesaikan pekerjaan rumah dan tugas-tugas lainnya yang diberikan. Jadi wajarlah kalau mereka itu memperoleh hasil yang jauh dari yang diharpkan. Tapi ironisnya mereka merasa cukup puas dengan hasil yang diperolehnya itu. Jadi untuk apa sebenarnya belajar itu ?
Belajar pada hakekatnya adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, lewat pengalaman dan latihan.
Dari situ dapat kita ketahui bahwa dengan belajar kita memperoleh pengetahuan dan ketrampilan, sehingga dapat merubah prilaku kita menuju terwujudnya harapan yang kita tuju atau yang dicita-citakan.
Banyak factor yang dapat menunjang kegiatan belajar dengan baik guna mewujudkan cita-cita itu, Satu sisi yang dapat menunjang belajar siswa sehingga akan lebih bersungguh-sungguh dan kontinyu dalam belajar adalah motivasi siswa dalam belajar yaitu dorongan yang kuat untuk siswa agar mampu belajar dengan baik.
Daya penggerak yang besar biasanya akan membuka jalan bagi siswa dalam menghadapi tugas-tugas belajarnya, sehingga ia mampu mengatasi segala kesulitan-kesulitan, rintangan-rintangan dan situasi yang kurang menyenangkan dalam belajar. Motivasi ini tidak hanya dating dari luar diri siswa. Yang lebih kuat justru motivasi dari dalam diri siswa itu sendiri. Keinginan dan kemauan yang kuat, yang mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, akan mampu mewujudkan tujuan yang telah dicita-citakan.
David C. Maclelland membagi motivasi dalam diri manusia menjadi tiga macam yaitu Motivasi Berprestasi, Motivasi Berafiliasi dan Motivasi berkuasa.
Motivasi Berprestasi
Bila seorang belajar, maka ia akan berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dengan sebaik-baiknya. Seseorang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi samgat menyukai pekerjaan/tugas-tugas yang menantang keahlian dan kemampuannya memecahkan persoalan.
Begitu pula dengan masalah belajarnya mampu diatasinya dengan baik. Ia tidak begitu percaya dengan nasib baik, misalnya akan memperoleh bantuan nilai dari gurunya atau dapat contekan dari temannya, sebaliknya ia berusaha dan percaya pada kemampuan sendiri. Dan bila ia membutuhkan bantuan ia akan bertanya pada orang yang dianggapnya mampu atau pada orang/kelompok atas dasar kemampuannya, bukan atas dasar setia kawan, kawan dekat dan sebagainya. Jika motivasi ini mampu dikembangkan pada setiap siswa dalam studinya, tidak mustahil siswa tersebut akan cepat mewujudkan kesuksesannya.
Motivasi Berafiliasi
Motivasi ini didasari oleh keinginan untuk menciptakan, memlihara dan mengembangkan hubungan kebersamaan. Pada waktu belajar, siswa berkeinginan selalu berkelompok. Ia akan mampu belajar dengan baik bila belajar bersama. Tujuan yang ingin dicapai pada motivasi ini adalah mengingkatkan kemampuan bersama atau kerjasama dalam belajar untuk mencapai prestasi tertentu. Jadi motivasi disini yang lebih penting kemampuan atau prestasi kelompok bukan pada kemampuan individu.
Motivasi Berkuasa
Siswa akan merasa terpacu dalam belajarnya jika mendapat dorongan untuk mengawasi dan mempengaruhi tindakan orang/siswa yang lain, misalnya dengan menjadi pemimpin kelompok belajar atau menjadi ketua kelas. Dengan menjadi pemimpin ia mampu meningkatkan kemampuannya guna mengatasi rekan-rekannya. Dorongan yang kuat dalam dirinya untuk belajar dengan baik akan tercipta, sebab bila tidak mau belajar dengan baik, ia akan merasa malu dengan rekan-rekannya atau anggota kelompoknya, maka ia termotivasi belajar untuk lebih baik dari pada rekan-rekannya.
Dari ketiga motivasi tersebut, kiranya pembaca dapat memilih alternative mana yang mampu diterapkan pada diri anda agar timbul dorongan dalam diri untuk belajar dengan baik, guna terwujudnya harapan, keinginan dan cita-cita dapat berhasil, sehingga motivasi ini menjadi satu sisi dalam menunjang keberhasilan belajar. Selamat berprestasi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar